10 Okt 2016

#BatikIndonesia Karya non Bendawi dan Inovasi

Baju Batik mulai ramai peminat -dokpri

Sejauh ini, saya hanya sebatas pemakai kain motif batik. Tak memahami arti sepenuhnya, di balik selembar karya seni yang saya pakai. Hanya kenal beberapa nama motif, yang kerap dipakai saat acara pesta perkawinan. Saya mengagumi keindahannya, menikmati keselarasan warna yang adem di penglihatan.
Saya punya kisah berburu batik, ketika mau prosesi lamaran calon istri kala itu. Motif sidomukti sungguh saya perlukan, demi hari bahagia tak terulang. Alhasil titip pada saudara, yang kebetulan sedang punya keperluan pergi ke Solo.
Setelah itu, saya tak lagi update tentang batik. Hingga mendapati kesempatan istimewa, hadir di sebuah acara di Jogjakarta. Kebetulan ada jadwal khusus, yang membuka mata awam saya tentang batik.
Yup, saat itu saya mengunjungi Sekar Kedhaton di daerah Kota Gede. Ini dia informasi yang saya dapati, tentang batik dan apa yang ada dibaliknya !
Mengulik filosofi dari Batik.
Berasal dari dua penggalan kata, yaitu 'amba' dan 'titik'. Amba artinya menulis sedang titik artinya titik, kalau digabungkan menjadi menulis titik. Prosesi membatik, laksana menuangkan titik demi titik di atas kain. Menggunakan alat bernama canthing, untuk menuangkan malam / lilin yang sudah dipanaskan.
Saya manggut-manggut, sembari membayang sebuah aksioma matematika. Bahwa garis adalah kumpulan dari titik-titik, yang berpadu kemudian terbentuklah sebuah garis.
Berhenti pada fase ini, benak saya menjumpai sebuah proses yang tidak main-main. Bayangkan saja kawan's, menuangkan titik demi titik betapa butuh waktu dan ketekunan. Pernah saya berbincang dengan pembatik, menyelesaikan satu sampai dua bulan untuk selembar kain.
Bahkan perasaan tenang diperlukan, agar hasil batik bisa mendekati sempurna. Garis demi garis diusahakan seragam, agar sang pemakai puas. Konon kalau sedang emosi, akan mempengaruhi goresan lilin pada kain. Biasanya pembatik memilih rehat sejenak, sampai emosinya stabil.
Ternyata sda tiga jenis batik lho kawan's:
1. Batik Tulis.
Batik tulis tergolong sangat istimewa, karena dikerjakan secara manual. Melbatkan "rasa" saat proses membatik, sekaligus menekan ego (konsisten) agar hasilnya maksimal. Goresan di atas selembar kain, berasal dari goresan tangan dengan media canting yang sudah dituang malam. Satu lembar kain batik tulis ini, membutuhkan waktu lama menyelesaikan.
Karena dikerjakan manual, maka setiap goresan di setiap motif pasti tidak sama persis. Bisa dijamin deh, satu lembar batik tulis hanya one and the only in the world alias satu-satunya di dunia. Tak perlu kawatir berpapasan, dengan orang yang memakai motif batik sama. Karena satu motif, hanya diproduksi satu versi.
Terjawab sudah pertanyaan saya, mengapa Batik Tulis harganya bisa selangit. Tak lain dan tak bukan, pengerjaannya menyertakan "ruh" dan penjiwaan tertuang di atas selembar kain.
Ada tips nih, untuk mengetahui batik tulis !
Caranya mudah, cukup dilihat bagian dalam kain. Kalau goresan tidak 'mbleber', atau gambar di dalam persis dengan bagian depan, dijamin kain tersebut batik tulis asli.
2. Batik Cap.
Batik jenis ini, di proses tidak menggunakan alat canting. Melainkan menggunakan media cap atau seperti stempel, prosesnya tidak memakan waktu panjang. Saya pernah melihat proses batik cap, satu jam bisa menghasilkan beberapa helai kain.
Caranya cukup praktis ;
Media cap bermotif batik, tinggal dicelupkan pada malam atau lilin yang sudah panas. Kemudian diangkat, cap langsung ditempel di atas kain.  Agar malam bisa melekat dengan bagus, dibutuhkan suhu panas yang sangat tinggi.
Pada batik jenis cap, sangat bisa diproduksi secara massal. Orang yang mengerjakan bisa bergantian, asalkan media cap yang dipakai sama.
Batik jenis ini, harganya lumayan bersahabat dengan dompet. Biasanya dipakai untuk pembuatan seragam, pada acara hajatan atau ceremoni lainnya,  
3. Batik Cap Tulis
Adalah kombinasi, dari batik tulis dan cap. Lazimnya dimulai dengan media cap, baru kemudian disempurnakan dengan canting.
Hasil kolaborasi ini, menjadi solusi bagi penikmat kualitas menengah. Dari sisi harga, tentu di bawah batik tulis.
Pada saat pemaparan baru saya ketahui, ternyata Batik Indonesia sudah mendapat pengakuan badan UNESCO-PB. Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), hal ini ditetapkan sejak 2 Oktober 2009. Inilah muasal, tercetus ide pemerintah menetapkan hari batik.
Meski ada wujud selembar kain, Batik dianggap karya non bendawi lho. Karena  batik bukan sekedar kain, atau pola, dan warnanya saja. Namun dalam selembar kain batik, mengandung unsur cerita, nilai filosofi dan humanis, serta kearifan budaya lokal (local wisdom).
Batik dipakai dari berbagai kalangan -dokpri
Setiap pola batik memiliki makna, jadi sebaiknya penggunaanya harus disesuaikan dengan acara. Jangan memakai motif batik asal, bisa-bisa nanti saltum (salah kostum). Agar tidak salah pilih kostum, nih saya dapat jenis motif batik.
Ada tiga jenis motif batik
Batik Parang ;  motif ini berasal dari Jogjakarta, lazimnya digunakan untuk kalangan raja dan keluarganya. Dalam batik Parang terkandung makna, pantang menyerah, atau tegar.
Batik Mega Mendung ; berasal dari Cirebon, motifnya berbentuk awan menggambarkan dunia yang luas dan bebas, memiliki makna transedental atau ketuhanan.
Batik Kawung ;  Motif batik jenis ini, sudah ada sejak jaman Mataram. Mungkin anda banyak jumpai, di daerah Jogjakarta dan Solo. Kawung atau buah Kawung (sejenis kolang-kaling) bermakna baik yaitu melambangkan kesederhanaan, keadilan, dan kesejahteraan.

Rasanya tak cukup saya menggali ilmu tentang batik, dalam waktu hanya dua jam. Namun moment istimewa ini, menancapkan satu pencerahan baru. Bahwa batik harus dilestarikan keberadaannya, diteruskan pada generasi muda. Jangan sampai diclaim oleh negara lain, seperti pengalaman yang pernah terjadi.
Pada satu sisi, untuk menarik minat batik musti menyesuaikan jaman. Selain tetap mempertahankan nilai adiluhung, perlu kiranya melakukan inovasi. Karena kita tak bisa menutup mata, generasi era millenial berbeda selera.
Hal ini bisa dipengaruhi banyak faktor, akibat derasnya arus informasi dan mudah membandingkan dengan budaya barat.
-0o0-
Suatu siang di sebuah Mall di Jakarta
Sebuah pameran kerajinan digelar, tampak bediri stand aneka produk ditawarkan pada pengunjung. Biasanya saya hanya melihat sekilas, seolah tak ada alasan untuk berhenti.
Namun kali ini lain, ada satu stand unik mengusik saya yaitu sebuah Sanggar Batik. Terpajang beberapa lembar kain setengah jadi, sedang dalam proses dililin dan belum sempurna. Motif yang tertuang sungguh berbeda, tidak seperti yang saya lihat di Sekar Kedaton Jogjakarta atau di manapun.
Pak Yadi nama penjaga stand, menerima kehadiran setiap pengunjung dengan hangat. Saya gunakan kesempatan bertanya, sekaligus menimba pengetahuan baru. Dari penjelasan yang disampaikan, terlihat beliau cukup paham tentang batik.
Inovasi berbatik -dokpri

"Untuk menyasar kalangan muda, motif batik sebaiknya memang berkembang dan kreatif. Pakem batik layaknya batik Solo dan Jogja yang penuh simbol dan filosofi, untuk market anak muda terpaksa harus dikesampingkan" ujar Pak Yadi membuka obrolan.
Memang saya lihat sendiri, motif tak biasa diaplikasikan di atas kain. Agar praktis dan efisien, sanggar batik ini menyediakan banyak contoh pilihan motif. Sehingga kain mori yang dibatik, memang sudah ada calon pembelinya.
Untuk motif batik, yang menyasar market anak kecil disediakan gambar karakter lucu. Anak anak pasti kenal, dengan karakter Dora, Donald Bebek, Upin Ipin, Lebah dan aneka tokoh kesayangan lainnya anak. Sedang untuk market remaja, tersedia gambar rumpun bambu, tumbuhan, taman bunga lengkap dengan kupu- kupu serta motif motif unik lainnya.
Motif bambu dengan warna soft -dokpr

Pilihan motif untuk anak-anak -dokpri
Pemilihan warna juga sangat bebas, saya lihat batik bercorak bambu warna biru soft ditunjukkan Pak Yadi. Warna batik pada umumnya, sering dilihat dasar kecoklatan, misalnya kuning kecoklatan atau hijau kecoklatan.
Namun ini sungguh beda, menggunakan warna cerah, dengan warna dasar dipadupadankan. Pun proses menggambar sesuai selera, bisa penuh atau tak penuh.
Penuh dan tak penuh ? Begini maksudnya,
Batik penuh, ketika satu lembar kain utuh seluruhnya diisi dengan motif. Misalnya gambar dora, pada bagian tangan atau kaki dora semua isi motif.
Batik tidak penuh, artinya satu lembar kain bisa saja ada bagian atau ruang kosong. Misalnya, gambar pemandangan, pada langit ada ruang kosong. Atau lukisan rumah, pada dindingnya dibiarkan kosong. Pada ruangan kosong ini, biasanya hanya diberi warna saja.
Pemilihan material warna dibagi dua jenis, yaitu pewarnaan alami dan pewarnaan kimia.  Kalau mau yang bagus, warna dari bahan alami bisa dipilih namun harga lebih mahal.
"Motif batik masa kini relatif simple, mungkin pengaruh jaman" lanjut Pak Yadi.
Batik dengan motif kekininan -dokpri

Karena sudah cukup ngobrol, saya pamit undur diri. Sembari berlalu, diam-diam saya menyepakati. Produk apapun, agar tahan gempur tak boleh menutup diri berinovasi menyesuaikan kondisi jaman. Karena market sebuah produk, tak lain adalah konsumen yang hidup di masa itu.
Jayalah Batik Indonesia, menjadi kekayaan bangsa yang tiada ternilai harganya. -salam-

2 komentar:

  1. Waahh... batik untuk anak2nya lucuk banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, saya baru tau ada motif anak-anak

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA